HOME AUTHOR WORK NOVEL CERPEN FOLLOW+
  • Title

    Description

  • Title

    Description

  • Title

    Description

  • Title

    Description

Dream Come True


OWNER
For Your Information

saya hanyalah gadis bisa. gadis yang memiliki banyak keinginan dan penuh rasa keingin tahuan seperti para gadis umum lainnya. saya mencintai dunia animasi dan menulis cerita. saya berharap, tulisan saya bisa membawa kesenangan dan inspirasi banyak orang. karena itulah saya berkarya :D

Contact Me
Social



Chatting
lets chat!



History
Blog Archive

Credit
The Credit

© 29 JUNE 2014 - Wardah Hasanah
How to be a Princess (sebuah novel part 2)
Selasa, 24 Juni 2014 | 0 Comments



BAB 2. MASALAH, MASALAH, DAN MASALAH!!

Sejak pagi, para pegawai La’Mona sudah terlihat sangat sibuk hingga waktu menjelang sore kini. Terutama para koki patisserie yang didatangkan khusus oleh pak Bahari cukup kewalahan membuat cake jumbo berukuran 3x3 meter dengan 8 tingkat, yang katanya sudah hampir rampung. Beberapa koki yang lain menyiapkan bahan makanan dan snack kecil. Dan para pelayan bertugas merapihkan meja dan tempat duduk yang sudah ditentukan. Untungnya tidak banyak dekorasi yang memusingkan para staf La’Mona. Sepertinya acara cukup formal untuk ukuran wanita muda yang terbilang masih remaja. Acara yang tersusun seperti memotong kue, toast, makan malam, dan pertunjukan musik.
“Seharusnya dia gunain jasa EO dan pesta  buat bikin party di rumah atau di gedung besar. Mentang-Mentang kaya, dia bisa memperkerjakan kita buat bikin acara dia di sini” dumel Harry kesal. Dia sibuk mengganti dan membentangkan taplak meja yang akan digunakan nanti malam.
“selain kenalan sama Pak Bahari, sepertinya keluarganya berani membayar mahal untuk reservasi satu resto ini. Jatuhnya memang lebih mahal. Terutama La’Mona kan Resto kelas atas… sepertinya bukan sekedar pesta ultah biasa deh, kalo gue jadi dia, gue bakalan bikin party gede-gedean sama temen-temen sambil berdisko, atau… bikin pool party pake bikini! hihihi” Shelia cekikian menambahkan. Dia bolak balik meletakan vas bunga pada tiap meja.
“yeah…” Mia membalas malas. Dia bertugas menyapu dan mengepel lantai.
“elo kenapa?” Shelia memandang temannya khawatir. Sejak pagi, Mia terlihat muram dan tidak bersemangat. Kerjaannya melamun dan pandangannya seperti sedang menerawang sesuatu. Sepertinya Mia sedang ada masalah…? Batin Shelia cemas.
“enggak… Cuma, hari ini perut gue agak sakit dan kepala gue sedikit pusing. Mungkin karena lagi menstruasi hari pertama…” tutur Mia lemas. Shelia tertawa terbahak mendengar perkataan temannya itu. Sedangkan Harry meringis geli. Dasar cewek…
“gue kira elo kenapa-napa… minum obat dong. Lo masih kuat enggak? Atau mau istirahat sebentar di ruang ganti?” Shelia menepuk pundak Mia. Mia menggeleng sambil senyum kecut. Karena Shelia tahu kalo Mia itu orangnya enggak bisa di paksa, dia Cuma bisa memberikan semangat saja.
“gue mau buang sampah dulu” Mia membawa serokan sampah menuju tong sampah besar di pojok ruangan. Setelah selesai membuang sampah, bukannya kembali menyapu, lagi-lagi Mia ngelamun sambil ngeliatin tong sampah. Enggak elite banget…

***

Kemarin malam…
“apa?” Tanya Mia. Seolah pendengarannya sedang ternganggu sehingga dirinya tidak begitu jelas menangkap perkataan Bapak padanya.
Bapak meneguk air putih di hadapannya, lalu mengulang perkataannya lagi.“iya… Bapak… sedang terlilit hutang besar…”
Sekoyong-konyong, baru kali ini Mia mendengar pernyataan se-mengagetkan itu dari sang Bapak. Bapak punya hutang? Bahkan hutang besar katanya…? Yang benar saja! Bapak yang selalu memegang prinsip untuk tidak berhutang sepeserpun dari orang lain, tiba-tiba memberikan pernyataan yang benar-benar bertolak belakang.
“kenapa yah…? Apa yang Bapak inginkan hingga berhutang…? Mia enggak percaya…” Mia menatap nanar. Bapaknya menunduk. Tidak sanggup memandang ekspresi kecewa putrinya.
“ini… hutang Bapak sejak… 7 tahun lalu...” tutur Bapak putus asa. Matanya terpejam dengan tangan mengusap wajahnya. 7 tahun lalu…?
Mia ternganga. Matanya melotot tidak percaya “mu, mungkinkah…?” Bapak mengangguk.
“ya… Bapak berhutang… demi pengobatan ibu…” GLEGAARRR!!! Seperti petir menyambar di siang bolong. Tubuh Mia terasa begitu lemas. Sudah kuduga… keluarganya yang miskin tidak akan sanggup membayar biaya rumah sakit yang sangat mahal. Apalagi, penyakit ibu bukan penyakit biasa… Bapak pernah bercerita bahwa dia memang menggunakan uang simpanannya untuk biaya pendidikanku di masa depan sebagai uang tebusan pengobatan ibu. Bapak bahkan pernah mengatakan pada Mia, bahwa kemungkinan dirinya tidak bisa bersekolah hingga SMA atau sarjana karena ketiadaan biaya. Namun buktinya, hingga saat ini dia bisa tamat SMA berkat dana dari Bapak dan beberapa beasiswa yang diterimanya dari sekolah. Meski waktu itu Mia mengatakan “tidak apa-apa jika tidak  bersekolah”, tetap saja Mia sedih. Dan Bapak tahu itu… Mia menggigit keras bibir bawahnya. Bibirnya terasa begitu kelu. Otaknya berpikir begitu keras. Hingga memutar kembali kenangan-kenangan masa lalunya… 7 tahun yang lalu…

***

            “Leukimia…?” Bapak menatap dokter bingung. Dia tidak paham dengan istilah ilmiah kedokteran seperti itu. Pendidikannya tidak tinggi dan tidak pernah pula mendengar kalimat itu sebelumnya. Dokter di hadapannya mengerutkan kening. Dia dokter yang terlihat masih cukup muda. Sekitar 30 tahunan. Di atas saku jas putihnya, sebuah pin identitas melekat. ‘Dr. Demian. Santoso’. Dokter Demian sedikit menggeser posisi pinggulnya hingga mendapatkan posisi yang pas di tempat duduknya.
            “sederhananya… Leukimia itu adalah sebuah kanker…” ucapnya dengan ekspresi serius. Bapak terdiam. Kalo Kanker, tentu dia tahu. Dan dia tahu juga, bahwa kanker adalah penyakit yang berbahaya.
            “kanker jenis ini merusak jaringan sel darah merah dan organ lainnya… ini, cukup membahayakan bagi penderitanya” dokter Demian menjelaskan sesederhana mungkin agar Bapak mengerti.
            Bapak memandang cemas dokter Demian. Sinar ketakutan tergambar dari tatapannya.
            “lalu… istri saya… bagaimana…?” Dokter Demian mengambil berkas medisnya sebentar untuk dibaca.
            “saya belum terlalu yakin… untuk sementara ini, sample darah nya akan kami periksa dulu untuk diuji. Dan akan ada beberapa test dan diteliti lebih lanjut untuk melihat kondisi ibu saat ini. Sepertinya, ibu terlambat menangani gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini… namun, saya akan berusaha sebaik mungkin demi istri bapak” tutur Dokter Demian sambil tersenyum memberikan harapan pada Bapak.
            “tapi dok…”
            “ya?”
            “istri saya… akan sembuh, kan?”

***

            Kebisuan yang  panjang terjadi antara Mia dan Bapak di ruang makan. Mia terus memainkan jemarinya sambil menggigit keras bibir bawahnya. Ini adalah kebiasaan lamanya jika sedang khawatir atau gugup. Dan mungkin juga ini adalah kekhawatirannya yang paling menyakitkan. Bapak tertunduk. Matanya terpejam seolah sedang tertidur. Tapi Mia tahu, Bapak tidak tidur. Dia sedang berfikir… tapi apa yang sedang ada di dalam pikirannya? Mia ingin tahu... kenapa Bapak tidak pernah mengatakannya selama ini pada Mia tentang kondisi-nya saat ini? Mia ingin tahu… dan kenapa Bapak tidak mau membangi kekhawatirannya, kesulitannya, kesedihannya selama ini…? Setelah 7 tahun kepergian ibu? Kenapa…?
            “Bapak tidak mau membebanimu dengan krisis keuangan saat itu. Bapak berusaha semampunya demi kesembuhan ibu…Dan… Bapak ingin kamu bisa tetap bersekolah…” ucapnya kembali bersuara. Seolah bisa membaca pikiran Mia.
            “dan lagi,Bapak tidak mau mengecewakan kamu karena pada akhirnya kita harus berhutang… Bapak ingin menanggungnya seorang diri. Demi kamu… dan ibumu…”
            Mia memalingkan wajahnya. Tidak sanggup menatap wajah Bapak dalam emosi yang tidak stabil. “kenapa harus ditanggung sendirian…? Padahal ada Mia di samping Bapak…bukan masalah berhutang yang Mia pikirkan… Mia tidak peduli itu. Tapi, kenapa Bapak merahasiakannya? Mia ada di samping Bapak… Mia siap membantu Bapak…”
            Bapak terpejam pasrah “ini terlalu rumit nak…” rumit…? Mia mengernyit bingung.
            “Kala itu Bapak sedang terpuruk karena bingung mencari biaya rumah sakit ibumu…”
            “bapak meminjam uang kesana-kemari, tapi tidak semua orang mau meminjamkan uang sebanyak perawatan ibumu… bapak  juga menggadaikan barang-barang berharga kita, bapak bahkan nyaris bertindak kalut…” Bapak menenggelamkan wajahnya dalam telapak tangannya putus asa.
            “bapak yang kala itu tidak tahu harus kemana, akhirnya bapak memutuskan untuk memohon bantuan pada seseorang…” tatapan bapak terlihat menerawang jauh dan kosong… siapa mereka yang bapak maksud…?
            Dipandanginya Mia yang terlihat sangat kebingungan. Gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat dan penyayang. Malam 7 tahun yang lalu… ditengah kesedihannya dan kebingungannya mencari biaya rumah sakit, Bapak duduk merenung seorang diri di ruang makan seperti saat ini. Dia tidak tega dirinya melihat Mia kecil yang  baru berusia 10 tahun mendengar keluhan seperti itu dari orang dewasa seperti dirinya. Namun apa daya… inilah yang harus dilakukannya… dalam keheningan malam itu, dia mendengar sebuah isakan. Isakan pelan dan terdengar pilu. Bapak berjinjit mendekati kamar Mia. Diintipnya anak itu yang sedang duduk menekuk kedua lutut kedalam pelukannya diatas tempat tidur. Mia menangis… pelan sekali dia mendengar dari bibir Mia yang sedih. ‘ibu… ibu… cepet sembuh… biar Mia bisa sekolah lagi…’. Kalimat itu terus dikatakannya berulang kali. Bapak jatuh berlutut. Kejam sekali dunia ini… membiarkan istrinya sakit… membiarkan anaknya bersedih… membiarkannya menderita seorang diri… apa yang harus kulakukan sekarang…? Bapak membuka mata kembali. Mia ada di hadapannya sekarang. Dia sudah dewasa… mampukah dia memikul beban berat ini bersamaku? Ah… Dia semakin mirip dengan ibunya… Bapak jadi ingat dengan kata-kata ibu ketika dirinya masih hidup.
            “Mia adalah permata kita… kita harus melindungi dan menyayanginya… suatu hari, dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan tegar… dan kita harus percaya sama dia…”
            Ya… kamu benar Melinda… aku akan melindunginya… akan aku berikan yang terbaik untuknya… karena dia anak kita… setitik air mata jatuh kepipi Bapak. Dia berdiri dari kursinya. Dihampirinya Mia dan dipeluknya gadis itu.
            “Bapak…?” Mia kebingungan. Pelukan Bapak terasa sangat sedih dan putus asa… Bapak selama ini sudah terlalu banyak memikul kesusahan seorang diri. Dibutuhkan banyak keberanian dan tekad yang kuat untuk menceritakan masalah ini. Masalah yang disimpannya bertahun-tahun… Mia berpikir, bagaimana caranya membantu Bapaknya…? Bisakah dia melunasi hutang keluarganya ini…?

***

            Suara alunan musik mengalun dari bibir penyanyi wanita muda di panggung yang sudah disediakan staf La’Mona. Girl on Fire nya Alicia Keys jadi terdengar begitu jazz! Karena para tamu mulai berdatangan, para pelayan La’Mona jadi lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Dari remaja, dewasa, hingga orang tua. Mia berdecak kagum melihat penampilan para tamu undangan yang datang. Super mewah! Wanita memakai gaun, dan pria mengenakan tuxedo yang stylish. Benar yang diucapkan Shelia. Kaum jetseter bener-bener beda! Di samping panggung, cake jumbo berwarna cokelat mengundang kekaguman siapapun yang melihatnya. Fantastis!
            “happy birthday Eliza!!” seorang wanita dengan penampilan bombastis menghampiri si gadis yang kini sedang berulang tahun itu. Eliza Sandoro… penampilannya sangat mempesona. Wajahnya cantik seperti boneka. Gaun biru laut selutut sangat cocok sekali menghiasi tubuhnya yang tinggi langsing. Rambutnya panjang sepinggang dibiarkan tergerai dihias bando mungil yang manis. Dia tampak familiar… Mungkin dia artis atau model?
            “Mia! Jangan melamun!! Sediakan Wine untuk meja nomor 9!!” Pak Bahari menegurnya. Mia segera kembali ke alam nyata dan segera melesat dengan botol Wine di tangannya. Seorang wanita dewasa dan pasangannya sedang asik mengobrol di meja nomor 9, langsung melirik sinis melihat kehadiran Mia dan mencela dalam hati. Pelayan lelet!
            “maaf nona…” balas Mia berusaha tetap sopan. Mia menuangkan Wine pada masing-masing gelas dengan hati-hati dan anggun. Calm down Mia…Calm down!
            “silahkan dinikmati…” Mia sedikit membungkuk dan meninggalkan pasangan itu. Fiuh… hampir saja… hari ini karismatiknya jadi berkurang… aku tidak boleh memikirkan masalah itu sekarang… pokoknya stay focus!
            “aduh!” Mia menubruk seseorang. Tubuhnya terhuyung kebelakang tidak siap menyeimbangkan tubuhnya. Bukannya mengkhawatirkan keselamatannya, Mia lebih takut botol Wine nya akan jatuh dari nampan! Oh nooo…!! Wine ini tidak boleh jatuh!!!! Harganya 5 kali lebih mahal dari gaji ku!!!  Mia memeluk botol Wine-nya erat. Dan kini tubuhnya siap mendarat dramatis di lantai.
            Set!! Sebuah tangan meraih pinggulnya.  Mia tertegun kaget. Saat membuka mata, wajah seorang pria yang ekspresinya tidak kalah kaget sedang menatapnya. Mia melotot shock. Cowok itu… Jantung Mia seakan mau keluar dari rongga tenggorokannya. Debarannya tidak mau segera berhenti. Mia kembali menegakan tubuhnya sambil berusaha menenangkan jantungnya. Ditatapnya cowok yang sedang berdiri di hadapannya saat ini. Gila… bener-bener ganteng… Setelan jas berwarna silver dengan kemeja hitam dibaliknya membuatnya sangat stylish. Rambut sasaknya di spike terlihat makin keren. Seorang malaikat tampan baru saja menolongnya!
            “Miaa!!” Shelia menghambur menghampiri temannya yang sedang kesulitan itu.
            “te, terima kasih tuan. mohon maaf…” Mia menundukan kepalanya merasa bersalah sekaligus seneng. Cowok di hadapannya tidak menunjukan ekspresi apapun. Tatapannya dingin. Beda banget sama ekspersi panik dan cemasnya yang barusan. Sesaat Mei berpikir, cowok ini yang baru saja menolongnya kan…?
            Cowok itu mendengus dengan tatapan tajam kearah Mia. “pelayan serampangan…” ledeknya lalu ngeloyor pergi.
            JTARRR!!!! Kalimat cowok tadi baru saja membumi hanguskan dunia indah Mia. Baru beberapa menit lalu dia mengagumi kejadian heroik itu, dan kini telah berubah jadi amarah. Calm down… calm down MIA!!! Jangan ngamuk di sini!
            “Mia…? Elo enggak apa-apa..?” Shelia mengusap punggung temannya itu. Tapi Mia terus saja diam sambil menunduk memandang sepatunya. “gue…mau kekamar mandi sebentar… pegang ini” Mia menyerahkan botol wine nya pada Shelia dan bergegas pergi. Shelia Cuma bisa memandangi punggung Mia yang menjauh. Anak itu kenapa sih…?
            BLAM! Mia menutup kasar pintu toilet. Dia duduk tertunduk di atas toilet. Wajahnya dibenamkan kedalam kedua telapak tangannya. Hari ini Mia tidak bisa mengontrol emosinya… sulit sekali… banyak hal yang terus berputar-putar di kepala Mia saat ini. Mencaci maki otaknya yang over load dengan segala macam kejadian yang terlalu tiba-tiba. Masalah hutang Ayahnya terutama. Cukup mendera sakit kepala hebat… Pusing! Mia mengambil tissue toilet dan disapukannya ke pelupuk matanya yang basah. Aku jadi lemah begini… tegar lah Mia… tegar lah… Mia menatap nanar kedua tangannya. Dikepalkannya kuat-kuat tangan itu hingga sakit. Mia memejamkan matanya khidmat. Aku tidak boleh merusak pekerjaan ku malam ini… tidak boleh…
            “tok…tok… tok…” seseorang mengetuk pintu toiletnya. Mia nyaris melompat kaget. Mia tidak bergerak. Kepalanya masih terasa begitu pusing. Dia masih ingin mendinginkan kepala sekaligus emosinya yang meledak-meledak tidak terkendali saat ini.
            “tok…tok… tok…” ketukan yang kedua kali.
            “tok… tok… tok… tok…” ketukan yang ketiga kali. Sedikit lebih memaksa dan lebih banyak mengetuk.
            “tok… tok… tok… tok… tok… tok… tok… tok….” Mia kesal. Ketukan ini malah makin membuat otak Mia makin mumet. Duuhhh!!! Enggak bisa kasih waktu privasi sebentar saja buatku?! Batin Mia mengeluh kesal. “iya… ya… tunggu sebentar…” Mia menegakan tubuhnya. Dia melemaskan sedikit otot-ototnya dengan melakukan pemanasan lengan. Cklek…
            “eh…?” Mia kaget. Seorang cowok tidak dikenal menatapnya kesal. Parasnya manis… bulu matanya lentik banget. Rambutnya agak panjang hingga menutupi sebelah matanya. Harajuku Style… dia mengenakan setelan jas warna hitam dengan kaus biru polos dan celana jeans. Gayanya lebih terlihat casual namun tetap cool. Sesaat Mia terpesona. Tapi kesadarannya cepat kembali. Kok… ada cowok di sini…? Batinnya bingung. Setelah itu ada beberapa cowok lain yang ikut melihatnya penasaran. Dan beberapa lagi tertawa cekikian.
            “ini toilet pria, neng…” kata cowok itu tegas dengan senyum sinis. Mia melotot. Masa?! Mia menjulurkan kepalanya keluar kamar mandi. Dipandanginya suasana toilet yang terlihat sedikit agak berbeda. Glek… Mia menelan ludah. Semua mata para cowok memandangnya lucu sekaligus kebingungan. Tatapan mereka seolah mengatakan… ‘kenapa ada makhluk asing di planet kita…?’. Keringat dingin mengucur deras dari kening Mia. Kepalanya berputar-putar. Wajahnya merah padam kayak kepiting rebus. Oh… no again…
            “ma, maaf…” Mia melangkah keluar dari toilet dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang memerah menahan rasa malu luar biasa. Sesaat suasana toilet begitu hening ketika Mia mengambil langkah seribu. Dan semua langsung berubah menjadi ledakan tawa yang tidak bisa lagi di bendung. HUAhahahahahaha!!!
                                                                                                    
***

            Tepuk tangan yang meriah memecah suasana hening ketika sambutan yang diberikan oleh Eliza selesai. Eliza melangkah turun dari panggung dengan gayanya yang anggun diiringi lagu yang mengalun manis dari tangan seorang pianis di samping panggung. Semua tamu berdiri serempak. Eliza akan segera meniupkan lilinnya… dan fuuuh… tepuk tangan yang meriah membahana di dalam seluruh penjuru La’Mona ketika lilin ditiup Eliza. Ucapan selamat dan sorakan menambah kemeriahan pesta. Orang tua Eliza menghampiri dan mengecup bangga kening putrinya. Mengharukan banget deh…
            “gila… tuh cewek anggun banget ya…” Shelia terkagum-kagum menatap setiap sesi acara dari kejauhan bersama para pelayan yang lain. Mia di sampingnya hanya mengangguk dengan wajah yang dari tadi terus-terusan ditekuk. Ini anak dari tadi tampangnya enggak sedap banget diliat deh… kenapa sih? Batin Shelia bingung menghadapi gadis seperti Mia. Sejak keluar dari toilet, tingkah Mia jadi makin bikin geregetan. Bukan hanya diam seribu bahasa. Tapi juga menunjukan ekspresi yang jutek abis! Peraturan penting dalam menjadi seorang pelayan yang baik adalah… selalu tersenyum manis! Dan hal ini sepertinya dilanggar berat oleh Mia. Tumben… pikir Shelia. Biasanya sih Mia riang-riang saja… memang sih dari tadi pagi aura nya itu udah enggak enak banget buat di tegur… masa sih hanya karena menstruasi hari pertama segitu parah moodnya? Shelia menggeleng putus asa. Tauk ah…
            “hei, masa katanya ada staf kita yang salah masuk toilet…” bisik Herry ngegosip pada teman-temannya seprofesi. Mendengar hal-hal berbau ‘Gosip’, membuat Shelia yang dijuluki ‘mbak-mbak tukang gossip’ merasa semangatnya jadi bangkit kembali. Dan Mia… hanya diam panas dingin.
            “masa? Siapa?!” Shelia terlihat sangat tertarik. Jantung Mia berdisko makin kencang.
            Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal.“eng… gak tau deh siapa. Enggak ada staf kita yang liat langsung sih. Gue dengernya juga lewat tamu yang lagi ngegosip. Staf cewek kita katanya”  Mia menghela nafas lega.
            “hahahaha! Bego banget tuh cewek! Apa sih yang dipikirin dia sampe salah masuk toilet!!” ledek salah satu pelayan pria. Mia monyong kesal mendengarnya.
            “kebelet pipis kali. Hahaha!” tambah Shelia.
            “eh, eh, katanya dia agak lama loh diem di toilet… mungkin… kecepirit!! Ahahahaha!!!” pernyataan Harry makin mengundang banyak tawa diantara pada pegawai. Mia tertunduk bête. Wajahnya merah padam. Sabar Mia… sabar… apa jadinya coba jika teman-temannya tahu, kalo si ‘tukang kecepirit’ yang dimaksud itu adalah seorang ‘Mia’? ditertawakan habis-habisan pastinya!! ‘Mia’ yang biasanya selalu perfectionist, mendadak jadi kikuk. Bukankah itu akan jadi bahan perbincangan yang sangat sempurna?
            “… selanjutnya ada sambutan dari bapak Ferdinand Sandoro, selaku ayah handa terncinta Eliza Sandoro…” Mc memberikan mic pada seorang pria paruh baya, namun garis wajah dan bahasa tubuhnya terlihat sangat tegas dan penuh semangat.
            “terima kasih atas kehadiran teman-teman, keluarga, dan rekan-rekan sekalian… saya ingin mengucapkan betapa sangat bangganya saya pada putri semata wayang kami, Eliza, yang kini sudah tumbuh semakin dewasa, semakin cantik, dan tentu dia adalah gadis yang cerdas… dia baru saja menyelesaikan sekolahnya di jerman, dan akan melanjutkan jenjang perkuliahannya di British bulan oktober ini…” pak Ferdinand berceloteh bangga tentang putrinya itu selama 7 menit. Semua tamu dibuat kagum dengan sosok Eliza yang sangat bersinar di mata keluarga dan orang banyak. Sungguh wanita yang sempurna. Bukan hanya cantik dan kaya. Dia juga gadis yang super cerdas!
            “… dan setelah ini, ada sesuatu yang ingin saya umumkan juga kepada para undangan yang ada di sini…” pak Ferdinand mengambil nafas panjang. Dia memanggil Eliza untuk berdiri di sebelahnya
            “sudah lama saya ingin menyampaikan ini sebelumnya, bahwa Eliza, kami telah menjodohkannya dengan putra dari bapak Andika Setiawan Cakrawala… Crishtian Cakrawala!” lampu spot mengarah ke meja nomor 4. Seorang pria muda dengan beberapa keluarganya tampak sedikit terkejut dengan pengumuman itu. Eliza juga tampak terkejut namun setelah itu senyum bahagia terpancar cerah dari wajahnya. Tepuk tangan makin meriah saat pria itu berdiri dan berjalan gagah menuju panggung.
            Mia tercengang kaget. Dia kan cowok brengsek tadi yang mengatainya ‘pelayan serampangan’!!
Diatas panggung, Eliza tidak henti-hentinya tersenyum bahagia. Berbeda dengan cowok bernama Christian itu. Dia hanya menyungging sedikit senyumnya pada para tamu. Pelit senyum banget! Desis Mia gondok.
            “dengan bangga, saya cukup mengakui seorang Christian Cakrawala. Dia masih begitu muda dan sangat percaya diri mengelola perusahaan besar Ayahnya, konglomerat besar Andika Setiawan Cakrawala. Dan dengan ini, kami akan mengadakan pesta pertunangannya 2 bulan lagi sebelum Eliza menjalankan perkuliahannya di inggris…” pak Ferdinand merangkul kedua anak manusia itu dengan bangga. Mia dibuat cukup terkejut dengan pernyataan barusan.
            “yang cewek cantik… pintar… dan kaya… , lalu yang cowok udah ganteng… kece abis… pengusaha muda… masa depan cerah… mereka… di jodohkan…. huaaaa!!!” Shelia histeris sendiri. Herry dan beberapa pelayan yang lain jadi sibuk menenangkan Shelia yang dilanda krisis batin ‘iri berat!’.
            “nasib orang itu beda-beda ya… yang kaya yang bahagia… yang miskin makin melarat…” gumam Shelia sambil nangis Bombay. Mia Cuma bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya yang super lebay. Shelia… Shelia… belum lama ini, Mia mendengar curhatan wanita itu. Minggu lalu, dia baru saja diputusin sama cowoknya setelah berpacaran selama 2 tahun lebih. Meski bukan cowok sesempurna Crishtian, bagi Shelia, berada di samping pria yang dicintainya dalam keadaan apapun tetep bikin bahagia. Mia melirik sinis Crishtian yang turun dari panggung sambil menggandeng tangan Eliza.
            Setelah sesi pengumuman itu, acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Disinilah kesibukan Mia CS mulai terlihat lagi. Pesanan makanan terus berdatangan. mulai dari appertizer, main dish, dessert, dan minuman. Para pelayan dibuat kewalahan.
            “silahkan dinikmati…” Mia dan Shelia menyajikan menu bersama-sama. Mereka berjalan meninggalkan meja tamu itu dan beralih ke tamu yang lain. Malam yang sibuk… Mia menyeka keningnya yang berkeringat dengan tissue. Matanya memandang sekeliling penjuru ruangan yang penuh dengan para tamu undangan. Entah kenapa, pandangannya terlihat berputar-putar. Suara musik yang menemani makan malam terdengar fals di telinga Mia. Mia mengejapkan matanya. Dia berjalan lunglai kesudut ruangan dan menyandarkan punggungnya di tembok.
            “lo kenapa?” Harry menghampirinya. “pucat banget muka elo” Ringisnya. Mia menggeleng lemah.
            “enggak apa-apa. Cuma agak pusing…” jawab Mia sambil senyum. Harry mengamati kesekeliling La’Mona. Para pelayan masih sibuk mengurusi pekerjaannya. Dan pak Bahari asik menyambut dan mengobrol ria dengan para tamu.
            “istirahat dulu sana… cari udara segar di luar. Mumpung pak Bahari enggak merhatiin kita” Harry mendorong tubuh Mia untuk segera menjauh dari ruangan. Mau enggak mau, Mia jadi menuruti perkataan Harry. Mungkin saran Harry cukup baik… Mia berjalan keluar ruangan menuju tempat out door yang tidak di pakai dalam bagian acara. Hanya ada beberapa orang saja yang sepertinya juga ingin menjauh dari kepenatan suasana pesta. Mia berjalan mendekati kolam ikan berhias air mancur di tengahnya. Dia duduk di tepi kolam sambil menatap ikan-ikan kecil di dalamnya.
            “lagi bête ya…?” Mia menoleh kearah suara yang sepertinya tertuju padanya. Lagi-lagi seorang cowok… Mia mendengus kesal. Beberapa kali dirinya tertimpa sial gara-gara ‘cowok’. Dan mereka bukan ‘cowok’ dari kalangan ‘rakyat jelata’ seperti dirinya. Mereka bersinar selayaknya ‘konglomerat’ papan atas! Dan kini, muncul lagi cowok yang tidak jauh berbeda. Mungkin yang membedakan adalah ekspresi yang ditunjukannya saat ini. Cowok itu tersenyum lembut kearahnya. Di tangannya memegang secangkir minuman. Anggur merah... Mia memperhatikan penampilan cowok itu lebih seksama. Penampilan cowok itu terlihat lebih nyentrik… dia mengenakan setelan jas warna putih dengan bulu-bulu silver halus menghiasi kerahnya. Rambutnya berwarna agak kecokelatan dan sedikit ikal pajang. Wajahnya sangat tampan dengan bola mata kebiruan menambah daya pikatnya. Dia belasteran ya…? Batin Mia penasaran.
            “cewek yang duduk sendiran… menjauh dari keramaian… biasanya lagi ada masalah… ya kan?” cowok itu duduk tidak terlalu jauh dari Mia. Tapi Mia cukup waspada padanya… meski terlihat baik, cowok tetaplah cowok… buat apa cowok itu mendekatinya, mengajaknya bicara tiba-tiba kalo bukan ada maunya? Mia tidak membalas perkataannya. “pasti masalah cinta… bener enggak?” dia mengedipkan sebelah matanya. Mia merasa gugup. Dia tidak terbiasa di rayu oleh cowok tampan dan eksotis seperti dia.
            Cowok itu memiringkan kepalanya. Memperhatikan wajah Mia lebih seksama. “elo bisu ya…?” sindirnya berusaha memancing keluar suara gadis mungil di depannya yang sejak tadi hanya melongo menatapnya.
             “pesta masih berlangsung… sebaiknya anda kedalam…” akhirnya Mia bersuara. Nadanya datar namun terasa sedikit memaksa. Tapi si cowok malah tertawa.
            “Seharusnya gue yang ngomong begitu sama elo kan? ‘nona pelayan yang baik… pesta masih berlangsung… sebaiknya jangan bolos kerja dan bermalas-malasan di sini…’” Mia terhenyak. Sindirannya mentohok hatinya yang sensitif.
            Mia memandangi sepatunya sambil tertawa miris. “ya… saya emang bukan pelayan yang baik… makannya saya lari ke sini, jadi mohon maaf ya tuan” ucapnya bernada kesal. Diiyakan saja ucapan orang itu. Tidak mau membuat masalah.
            “haha… gue suka cewek yang lagi marah… lebih imut” cowok itu malah menggodanya. Mia terngaga tidak percaya. Orang ini sinting apa…? Mia mengatupkan mulutnya. Lebih baik tidak memperdulikan pria macam ini… dia akan semakin menjadi-jadi jika terlalu di ladeni.
            Mia mengusap lengannya yang terasa dingin karena udara malam. Pakaian pelayannya terlalu tipis… “pesta yang ngebosenin ya…?” cowok itu mulai bersuara lagi. Mia sudah memutuskan untuk tidak bersuara lagi kali ini.
            Si blasteran memandangnya jahil.“kalo gue, pasti bakalan bikin pool party dengan cewek-cewek cantik berbikini” mau tidak mau, Mia jadi dibuat tersenyum oleh kalimatnya itu. Ungkapan yang sama dilontarkan oleh Harry juga sebelumnya kan? ‘pool party berbikini…’
            “ternyata… elo lebih cantik kalo tersenyum” lagi-lagi dia menggodanya.
Mia mulai tidak tahan berlama-lama di samping orang itu. Keningnya berkerut kesal. Orang ini sudah merebut waktunya yang berharga dan seharusnya digunakan untuk menenangkan batinnya yang panas dingin. Bukannya merasa lebih baik, mood Mia malah makin suram! “… maaf, saya mau kembali kerja…”
            “tunggu” pria itu menarik lengan Mia. “gue aja yang pergi…” Pria itu menunjukan senyumnya yang menggoda. Dia memberikan gelasnya yang masih berisi Wine pada Mia. “minumlah… lumayan bisa bikin relax…” ucapnya lalu segera pergi meninggalkan Mia yang masih melongo bingung. Dipandanginya Wine yang masih tersisa seperempat gelas di tangannya.
            “Dasar cowok playboy cap tikus! Dia pikir, gue bakalan tergoda? Dasar orang kayak sok tahu!!” umpat Mia kesal. Tanpa sadar, ditegaknya minuman yang ada di tangannya sampai habis.
            “eh…?” Mia menatap gelas di tangannya. Matanya melotot tidak percaya. Aku meminumnya?!! Aku minum alcohol!!
            Mia berusaha menegakan kembali tubuhnya. Tapi rasanya berat banget. Sesekali juga terasa melayang-layang. Mia merasa kepalanya pusing. Pandangannya berputar-putar. Tidak mungkin… aku mana mungkin mabuk! Minumannya kan hanya sedikit…!
            “kerja… harus balik kerja…” gumamnya mengukuhkan pendirian. Mia berjalan gontai kedalam ruangan.  Kepalanya sudah pusing sejak sore tadi… dan jadi makin pusing karena pengaruh alcohol yang tidak sadar diminumnya tadi. Apa jadinya jika ada orang yang menangkapnya basah meminum Wine mahal milik tamu dan langsung mabuk? Konyol!
            “Mia…? Lo kemana aja?” Shelia menepuk pundak temannya yang baru nongol.
            “bentar… gue mau minum air dulu..” Mia menepis tangan Shelia dan berjalan menuju dapur sambil memegangi kepalanya yang pusing. Tapi hantaman-hantaman di kepalanya terlalu memaksanya untuk tidak banyak bergerak. Mia memandang ke sekelilingnya. Matanya jatuh pada air putih yang ada di atas meja tamu. Tanpa pikir panjang, Mia langsung jalan ke sana dan mengambil air itu lalu segera ditegaknya. Mia tidak memperhatikan para tamu di meja itu yang sedang menatapnya keheranan. Apa-apaan pelayan ini?!
            Mia menghela nafas lega, namun dia merasa kepalanya makin berputar. Dia menatap minuman yang baru saja ditegaknya. Matanya kembali melotot tidak percaya. Sampange!!
            “aaaaaaa…. Tidaaaakkk!!” erangnya kesal. Masalah! Masalah! Dan selalu saja Masalah menimpaku!! Mia berjalan tidak beraturan. Orang-orang memandangnya kebingungan. Kenapa pelayan itu…? Sakit?
            “Mia!!” Harry menarik lengan Mia dan segera diseretnya gadis itu. “lepasin!!” Mia menepis dan melepaskan cengkraman Harry. “gue enggak kenapa-kenapa!” cercaunya. Dia berusaha menstabilkan keseimbangan tubuhnya dan berjalan entah kemana. Tapi usahanya gagal… tubuhnya yang terlalu goyah segera ambruk ke lantai. Orang-orang berteriak kaget melihat Mia yang tiba-tiba terjatuh. Tapi dia tetap tidak menyerah, Mia menggapai meja tamu yang ada di dekatnya. Tapi dia hanya berhasil menjangkau taplak mejanya. Di tariknya taplak meja itu kuat-kuat. Usahanya hampir berhasil menegakan kembali tubuhnya.
            “Miaaaa!!!!” Mia menoleh kearah panggilan. Harry dan Shelia terngaga sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Kenapa sih…? Mia langsung memalingkan pandangan kearah lain. Matanya menatap sebuah benda besar yang tampak siap jatuh dan menghantam dirinya. Bentuknya seperti piramida dengan tingkat 8. Kue ulang tahun super besar Eliza siap menelannya bulat-bulat! Mia memejamkan matanya pasrah. Matilah aku…
            BRUUUKKK!!

***

            “Apes…” Mia melempar kaleng soda yang sudah habis ke tong sampah yang berjarak 3 meter dari tempatnya berdiri. Tapi sayangnya, lemparannya tidak tepat sasaran dan terjatuh teronggok di tanah. Mia menghela nafas lelah… helaan nafasnya yang kesekian kalinya… pandangannya yang kosong menatap kaleng itu. Kaleng malang itu seperti dirinya. Sampah… kosong… dan tidak berguna…
            Mia berlari kecil meraih kaleng itu lagi dan mengambil posisi awalnya kembali dengan jarak 3 meter dari tong sampah. Mia menggunakan ancang-ancang meyakinkan. Matanya menyipit memastikan kali ini lemparannya tidak akan gagal. Dan… Syuutt… TANG!
 “sial…” gumamnya datar ketika melihat kaleng soda yang di lemparnya itu kembali jatuh teronggok di tempat yang sama. Mia melakukan hal yang sama sekali lagi-lagi-lagi dan lagi. Dan kaleng itu tidak pernah tepat sasaran! Mia mulai merasa emosi. Keningnya berkerut kesal. Hatinya sakit dan mendidih seakan akan segera membuncah siap meledak kapan saja. Kenapa harus emosi…? Hei! Ini hanya kaleng kosong kan?! Mia berteriak dalam hati. Matanya berkilat marah dan berkaca-kaca. Lututnya terasa lemas dan tidak sanggup menopang tubuhnya yang terasa berat sekali. Berat akan segala beban masalah yang ada di kedua pundaknya… Mia berlutut dan tertunduk. Bukan… ini bukan soal kaleng kosongnya… Ini karena hal yang lain… Air matanya mengalir satu-satu dan semakin deras. diiringi suaranya yang terisak dan tercekat dari tenggorokannya. Pikirannya melayang ke beberapa jam lalu…
  “kamu merusak semuanya!!” pak Bahari menunjuk-nunjuk kasar wajah Mia yang sejak tadi berdiri tertunduk. Tatapannya penuh aramah dan kebencian pada gadis di depannya. Dia tidak mengenakan seragam pelayannya yang kotor dan sudah berganti dengan pakaian biasa. Ruang kantor pak Bahari terasa begitu panas sekali saat itu. Padahal suhu AC ruangan itu sangat dingin. Kemaran pak Bahari bisa merubah aliran udara rupanya…
“sa… saa, saya…”
“STOP!” pak Bahari mengangkat dagunya. Arogan dan emosi. “saya belum selesai bicara…” desisnya tajam. Mia mengigit bibir bawahnya keras-keras. Hingga terasa perih. Ditahannya gejolak perasaan bersalahnya dalam-dalam. Ya… aku pantas menerimanya… batin Mia.
“kamu tahu? Berapa kali saya harus membungkukan badan dan memohon maaf pada semua orang hari ini? Dan betapa marahnya nona Eliza dan keluarganya pada saya karena kekacauan yang kamu buat hari ini?”Mia menelan ludahnya getir dan terasa begitu pahit mendengar ucapan pak Bahari.
“betapa lalai nya kamu bekerja… seharian ini kamu tidak focus sebagaimana mestinya ‘pelayan’… dan KAMU,…!!” suara pak Bahari menggema di ruang kantornya itu. “kamu mabuk saat bekerja… ETIKA KERJA MACAM APA ITU, HAH?!” Mia memejamkan matanya pasrah. Terbanyang kebodohan yang telah di lakukannya beberapa jam lalu. Bukan hanya mabuk. Dia menjatuhkan kue ulang tahun yang empu nya acara. Masih segar dalam ingatannya tatapan semua orang kearahnya. Syok… histeris… marah… dan tawa yang membahana melihatnya dalam balutan krim kue tart raksasa Eliza di seluruh tubuhnya. Mia juga melihat ekspresi sinis Eliza kearahnya. “kenapa ada pelayan mabuk di pesta ku…? Kue ku dibuat hancur pula!! Usir dia!” pekik Eliza emosi. Buru-buru Mia di bantu teman-temannya untuk berdiri. Berkali-kali dia terjatuh karena lincinnya krim yang menempel di lantai. Bahkan Harry dan Shelia juga ikut terperosok ketika membatu Mia untuk segera menjauh dari keramaian pesta itu. Sekilas Mia melihat para cowok-cowok tampan sialan yang membuatnya tertimpa masalah yang membaur di antara para tamu undangan. Crishtian memandangnya takjub sekaligus geli. Si cowok manis yang memergokinya di toilet juga memasang senyum lebar yang terlihat sinis. Dan si blasteran yang memberinya minuman, pura-pura tidak melihatnya sambil mencuri pandang sesekali kearahnya. Dia menahan tawa! SIAL!! Umpat Mia dalam hati. Malam itu Mia menjadi perusak acara sekaligus badut penghibur. Lengkap sudah penderitaannya malam ini…
“banyak tamu undangan penting dan terhormat hadir malam ini… reputasi tempat ini saya pertaruhkan dengan menyajikan segala yang terbaik untuk mereka. Makanan… suasana… dan pelayanan… semua sudah saya pertimbangkan matang” tutur pak Bahari datar namun terdengar nanar. Mia mendongak dan memberanikan diri menatap pak Bahari. Wajah pria paruh baya itu terlihat mengeras dan geram. Pak Bahari adalah atasan yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesempuraan dalam pekerjaannya. Saat ini, hatinya terluka dan wajahnya tercoreng oleh kotoran yang dibuat oleh karwayannya yang serampangan. Ya… pelayan serampangan bernama Mia. Hati gadis itu mencelos melihat tatapan membunuh pak Bahari. Berakhir sudah…
“kamu dipecat”
            Bom atom bagai di lempar begitu saja ke hati Mia. Ledakannya yang dasyat meruntuhkan pertahanan Mia yang sejak tadi berusaha tetap terlihat kuat dan tegar. Mia menangis…
            “pak…” suaranya pelan dan lirih. Pak Bahari memejamkan matanya lelah.
            “kamu masih beruntung karena tidak saya tuntut. Lebih baik segera kamu keluar dari ruangan saya…” Mia menggeleng putus asa. “tolong pak… jangan pec…”
            “SAYA BILANG KELUAR DARI RUANGAN SAYA!!”
***
            “sampai kapan kamu mau menangis di sana…?” suara seseorang di dekatnya membuat Mia tertegun. Sejak tadi Mia menangis sambil meringkuk di totoar jalan. Mia tidak segera mendongakkan kepalanya. Dia melihat sepatu kulit pantofel berwarna hitam di depannya. Cowok… siapa? Harry?
            Malu. Mia semakin menenggelamkan wajahnya kedalam lutut. Dia sedang tidak ingin diganggu siapapun. Sekalipun keberadaannya mengganggu orang-orang yang melintas di depannya. Apa susahnya sih mengabaikan orang yang sedang bersedih? Abaikan saja! Anggap saja dirinya seperti sampah yang tergeletak tidak penting di jalanan. Cercau Mia dalam hati.
            “cuekin aja gue…” lirih Mia dengan suara bergetar. Mia melirik keberadaan cowok di depannya. Kaki itu tidak bergeming. Aah… apa sih masalah cowok itu padaku? Bisik Mia. Cowok itu kini ikut berjongkok di depannya. Terdengar helaan nafas beratnya yang sepertinya mulai kesal dengan kelakuan Mia yang keras kepala.
            “hei, kau tahu? Di sekitar sini banyak banget terjadi pelecehan seksual dan pemerkosaan. Target mereka kebanyakan wanita muda… Aku bisa saja meninggalkanmu sejak tadi. Tapi setelah itu, aku tidak jamin keselamatanmu. Dan saat ini, aku sedang berusaha bersikap baik padamu dan menjaga martabat cowok baik sepertiku… karena sejak tadi aku melihat ada seorang pria cabul yang berusaha mendekatimu. Nah… sekarang, apa kamu masih mau tetap di sini?” Mia mengangkat kepalanya kaget. Sungguh?! Ekspresi terkejut dan paniknya tidak bisa disembunyikan. Kata-kata cowok ada benarnya. Tapi tidak menutup kemungkin jika cowok di hadapannya adalah salah satu dari ‘pria cabul’ itu kan? Apa aku sedang di tipu…? Mia melirik takut-takut kearah cowok di depannya. Mia tercekat. Rasanya tidak mungkin cowok itu adalah orang cabul… mata dingin itu… senyum sinis namun memikat itu… dan wajah itu…
            “Cri..Crishtian…?”

Label:

Posting Komentar