HOME AUTHOR WORK NOVEL CERPEN FOLLOW+
  • Title

    Description

  • Title

    Description

  • Title

    Description

  • Title

    Description

Dream Come True


OWNER
For Your Information

saya hanyalah gadis bisa. gadis yang memiliki banyak keinginan dan penuh rasa keingin tahuan seperti para gadis umum lainnya. saya mencintai dunia animasi dan menulis cerita. saya berharap, tulisan saya bisa membawa kesenangan dan inspirasi banyak orang. karena itulah saya berkarya :D

Contact Me
Social



Chatting
lets chat!



History
Blog Archive

Credit
The Credit

© 29 JUNE 2014 - Wardah Hasanah
How to be a Princess (sebuah novel, part 1)
Selasa, 24 Juni 2014 | 0 Comments


catatan kecilku: Ini novel pertama yang aku buat. Masih on going. saya sendiri masih mikirin klimaks ceritanya. Sudah lama saya mau post dan minta saran teman-teman yang membacanya! :D mohon komentarnya yaa...


 BAB 1. GADIS PEMIMPI
 
“…sang pangeran akhirnya bertemu dengan Cinderela. Cinderela lah pemilik sepatu kaca itu. Orang yang selama ini dicari-cari sang pangeran. Cinderela dan Pangeran menikah. Mereka hidup bahagia selamanya…” Ibu mengakhiri ceritanya lalu menutup buku cerita favoritku. Cerita tentang seorang gadis jelata bernama Cinderela yang menikah dengan seorang pangeran tampan. Kisah yang sangat romantis menurutku. Malam ini, untuk yang kesekian kalinya, ibu membacakan dongeng Cinderela sebagai pengantar tidurku. Dan sebelum aku memejamkan mata, ibu akan berkata.
“gadis berhati mulialah yang akan menjadi pemenang… gadis yang akan mendapatkan kebahagiaan. Dan setiap gadis itu cantik… jadilah gadis yang cantik… terutama cantik di sini” ibu menunjuk dadaku. Setelah itu dia akan mengecup keningku dan mengucapkan ‘selamat malam’… dongeng yang selalu ibu bawakan, membawaku kedalam sebuah impian anak kecil seusiaku ‘aku ingin jadi seorang putri… putri yang cantik dan baik hati seperti di dalam dongeng… suatu hari aku akan menikah dengan pangeran tampan dari sebuah kerajaan..’ lucu memang, tapi itulah impianku. Impian dari seorang gadis kecil yang entah akan jadi apa di masadepannya…

8 tahun kemudian…


“Bief Steak honey, roast crab and shrimp, risotto vegetable and cheese untuk meja nomor 8, tolong di antar!!” teriakkan koki dari dapur memecah keseriusan para staf yang ada di dapur Resto La’Monaco.
            “ya!” seorang wanita berpakaian pelayan mengambil nampan dan meletakan piring berisi masakan-masakan kelas dunia itu dari meja pesanan. Dengan sigap dia melesat ke meja nomor 8 dan meletakan pesanan itu pada pelanggan. “selamat menikmati…” ucapnya dengan senyum, lalu beralih ke meja yang lain.
            “Mia, Mia! Tolong layani meja nomor 12” Seorang staf pria memanggilnya. Tanpa banyak bicara, dia langsung pergi ke meja 12. Memberikan buku menu, menanyakan pesanan, menawarkan hidangan special, dan kembali lagi ke para staf di meja pemesanan, memberikan daftar makanan yang akan koki buat.
            “seperti biasa, kita selalu di buat sibuk di hari ini…” seorang pria menghampirinya. Harry. Teman seprofesi. Wajahnya terlihat suntuk dan lelah sambil memukul-mukul pundaknya yang terasa pegal. Sudah puluhan pelanggan di layaninya bolak balik sejak sore tadi dan sampai pukul 9 malam sekarang pun tempat ini tidak kehilangan pengunjung setianya! Mia terkekeh geli.
“ya…” balas Mia dengan mata berbinar ceria. Lelah memang. Tapi, gadis bertubuh mungil itu tidak ingin menunjukan wajah semraut-nya di hadapan para pengunjung. Baginya, pelananan terbaik dari seorang ‘pelayan’ sepertinya adalah hal yang sangat penting! Senyum, ramah, dan penuh pengertian. Itulah 3 aturan yang di terapkan Mia di ‘La’Mona’. Restoran dengan hidangan ala paris itu, memang cukup terkenal dengan sajian makanan bintang 5-nya. Suasana resto begitu glamor dengan desain interior yang sangat artistik namun tetap terlihat modern dan stylish. Alunan musik klasik mengalun lembut memberikan nuansa yang begitu mewah dan seolah membawa para pelanggannya berada di negeri yang terkenal dengan sebutan romantic country-nya itu.  Para pengunjung La’Mona juga kebanyakan para pasangan yang ingin menikmati makan malam romatis dan suasana yang hangat. Namun ada pula yang membawa keluarga, rekan kerja, teman, atau sekedar ingin menikmati cita rasa masakannya. Tentu saja, La’Mona selalu memberikan masakan terbaik mereka. Memang sih, para pengunjung La’Mona lebih banyak berasal dari kalangan atas. Maklum… dari segi cita rasa masakan, minuman, dan suasana restonya sangat berkelas. Mia adalah pegawai baru yang  belum lama bekerja di sana. Gadis berparas Ayu itu ingin melakukan pekerjaannya se sempurna mungkin. Usianya masih sangat muda. 18 tahun. Baginya, gadis lulusan SMU seperti dirinya masih sangat beruntung bisa dapat pekerjaan ini. Dan lagi, demi dirinya dan orang tuanya, Mia harus bisa bersikap mandiri.
Dia bukan anak orang kaya. Mia juga tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan setelah mendapatkan ijasah SMU nya. Tidak apa-apa… Mia selalu menguatkan diri dan membatin. Nasib baik memang belum berpihak padanya. Tapi, dia berharap dengan bekerja keras seperti saat ini, dia akan berusaha mengumpulkan banyak uang dan menabung untuk bisa kuliah tahun depan!
            Mia menoleh kearah teman-teman kerjanya yang sedang berkumpul di pintu  dapur sambil rebutan mengintip kearah meja yang sudah di reservasi sejak 3 hari lalu. ‘lagi ngapain sih…?’ batinnya bingung. Letak meja itu out door dan dibuat agak terpisah dari meja-meja yang lain. Suasana meja itu begitu temaram dengan sepasang lilin di tengahnya sebagai pencahayaan. Sepasang anak manusia sedang duduk berdua di sana. Menikmati hidangan yang sudah tersaji di hadapan masing-masing. Mereka pasti pasangan… batin Mia yakin. Mia yang penasaran, akhirnya mendekati teman-temannya di pintu dapur.
            “Mia! Sini-sini!!” Shelia menarik tangan Mia untuk ikutan mengintip.
            “kenapa sih? Heboh banget liat orang pacaran…” ungkap Mia tidak tertarik.
            “bukan! Bukan sekedar pacaran! Ini proposal!! Cowok itu mau ngelamar cewek itu!!!” jerit Shelia tertahan dengan mata berbinar-binar. Mia membulatkan mulutnya. Begitu toh… jarang-jarang juga dirinya melihat adengan ini. Sepertinya menarik… Mia mengintip sedikit kearah muda mudi itu. Mia tidak bisa melihat si cowok karena duduk membelakangi mereka. Namun dia bisa melihat si wanita. Cantik… make up nya natural, lagi pula tanpa make up sepertinya gadis itu sudah sangat cantik. Dia mengenakan gaun warna orange se lutut yang sangat elegan. Rambutnya yang panjang se bahu terlihat sedikit curly dibiarkan terurai sederhana. Mia menaruh rasa kagum pada wanita itu. Dia cantik dan kelihatannya juga orang yang berada… dia gadis yang sangat beruntung dan sebentar lagi akan dilamar oleh pria itu.
            “Mont black cake yang di depan cewek itu diisi sama kejutan… cincin! Jadi si cewek enggak sadar ada cincin di dalamnya, terus… pas liat ada cincin di dalamnya… si cowok bakalan langsung melamar! hoaaaa romantis abis deeeehhh” tutur Shelia menjelaskan rencana proses lamarannya terkagum-kagum sendiri. Dan benar saja, gadis itu terlihat terkejut dengan hadiah di dalam cake nya. Mia memandang kagum pada pasangan itu. Sesaat pandangannya jadi menerawang jauh kearah lain. Pikirannya melayang…
“nanti akan ada pangeran ganteng yang jemput Mia. Mia akan menikah dengannya dan tinggal di istana!”
            “hei! Ngapain pada kumpul di sini!!” Pak Bahari, manager resto muncul! Suaranya yang menggelegar mengagetkan para pegawai termasuk Mia dan Shelia. Mereka bubar melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
“hhh… jadi enggak bisa liat moment yang paling asiknya deh!!” dengus Shelia bête.
“cewek yang beruntung ya. Mana mungkin wanita tadi menolak cowok itu” ungkap Mia menyuarakan isi hatinya tanpa sadar.
“pasti lah! Cowok itu ganteng banget! Pasti juga dari kalangan berada.” Mia manggut-manggut ngerti. Cowok ganteng dan kaya… wanita itu benar-benar terlalu beruntung. Dia bisa mendapatkan dapat pasangan yang sempurna dan ideal. Mia mendesah iri… bangsawan selalu bersama dengan bangsawan… anak konglomerat dengan anak konglomerat lainnya… pasangan itu seperti pangeran dan puteri dari negeri antah berantah yang diselimuti kemakmuran dan kebahagiaan… berbeda dengan dirinya. Rakyat jelata selalu bersama dengan rakyat jelata juga! Ya, dirinya hanyalah seorang rakyat jelata! Bagai sudah menjadi suratan takdir yang di berikan Tuhan… takdir itu sudah dibentangkan di depan kita dan hanya ada satu arah. Tidak ada jalan lain yang akan berakhir happy end seperti kisah kisah para wanita sengsara dengan pangeran di dunia dongeng. Tidak mungkin pula, mimpi muluk yang selalu di simpannya dalam hati akan terjai. Lagipula,dirinya sudah terlalu tua untuk mendambakan bisa bersanding dengan pria-pria tampan bagai pangeran dengan kuda putihnya. Well, karena ini abad 21, ibarat seorang pemuda kaya raya dengan mobil jaguarnya! Ya… itu hanya impian anak kecil kok. Tidak perlu di pusingkan segala. Tepis Mia dalam hati.

Sekitar pukul 11 malam, La’Mona ditutup. Tapi malam ini beberapa pegawai masih berkumpul di dalam restoran. Mia bergegas mengganti pakaiannya dengan kaus polo warna biru, jaket baseball dan celana jeansnya. Rambutnya yang tadinya dikuncir kuda, kini terurai lurus hingga se pinggang. Setelah itu, dia ikut berkumpul dengan teman-teman kerjanya. Ini adalah saat-saat yang selalu ingin dinantinya.
            “cihuiii!! Besok gue mau traktir cewek gue!” Harry keluar dari ruang manager dengan riang. Dia memamerkan sebuah amplop pada para pegawai yang dibuatnya iri. Gaji! Tapi tenang… semua pegawai bakalan kebagian jatahnya masing masing kok.
            “Riatna Mia Dewantari, giliran elo” Panggil Shelia setelah gilirannya usai. Mia melangkah semangat kedalam ruangan Mananger. Pak Bahari menyambutnya dengan senyum.
            “ini gaji pertamamu kan Mia? Kamu sudah bekerja dengan baik selama sebulan ini. Terima kasih atas kerjasama mu” Pak Bahari memberikan sebuah amplop pada Mia.
            “ah, bapak bisa saja. Justru saya yang berterima kasih. Bapak mau memperkerjakan saya disini” balas Mia. Diterimanya hati-hati amplop itu dan dimasukannya kedalam tas kecilnya. Setelah pamit, Mia segera melangkah keluar. Menemui Shelia, teman seprofesi sekaligus orang terdekatnya di lingkungan kerja.
            “jieeee… gaji pertama!! Mau dipake buat apa nih?” Tanya Shelia iseng. Dia dan Mia langsung pamit pulang setelah menerima gaji mereka masing-masing. Jalan pulang mereka searah. Jadi mereka sering pulang dan naik kereta bareng dari restoran. Jarak stasiun tidak begitu jauh dari sana. Namun, jika sudah malam begini, suasana stasiun malam  begitu sepi dan mencekam. Hanya ada beberapa orang menunggu kedatangan kereta seperti mereka.
            “beli kebutuhan rumah dong. Sebagian gue simpen dan ditabung, buat kuliah gue tahun depan” Shelia mengangguk. Dia memang belum mengenal betul tentang Mia. Tapi yang dia tahu, Mia itu orangnya pekerja keras. Dan lagi, Mia hanya memiliki seorang keluarga. Bapaknya. Ibunya meninggal saat dirinya masih kecil. Keluarga Mia bukan dari keluarga mampu seperti orang kebanyakan. Shelia sedikit miris ketika mendengar perjuangan Mia dan bapaknya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bapaknya adalah seorang kuli bangunan. Dan usianya tidak lagi muda dan sangat renta… kini Bapaknya sering kali sakit-sakitan dan tidak bisa pergi bekerja. Hal itulah yang membuat Mia bertekad untuk bekerja demi bapak dan hidupnya. Bapak sudah melarang Mia untuk bekerja. Bisa saja bapak menyekolahkan Mia ke universitas demi mimpi sang putrinya yang sangat ingin meraih gelar sarjana dengan uang pinjaman dan menggadaikan harta-harta nya. Tapi Mia menolak. Mia sudah bukan lagi seorang anak kecil. Sudah waktunya untuk berjuang dengan kaki sendiri dan mengabdikan dirinya untuk bapak.
“sesekali lo harus rileks sedikit. Lama-lama lo keliatan kayak emak-emak!” sindir Shelia memecah kekakuan. Tapi Mia malah tertawa. Gajinya sebagai pelayan memang tidak besar, makannya dia harus bijaksana menggunakan uangnya.
“terserah deh mau bilang gue kayak apapun! Pokoknya gue enggak ada waktu buat seneng-seneng dulu. Bawang, cabe, sayur, daging, harganya lagi naik. Gue jadi harus pasang srategi biar enggak boros. Makannya, saat ini gue belom bisa nge-traktir elo” Mia menunjuk hidung Shelia yang terkejut dibuatnya. Sesaat mereka berhenti ngobrol, karena kereta telah tiba.
“duuuh... dasar emak yang satu ini… tau aja kalo gue minta di traktir! Dasar pelit!” Shelia mencibir. Mereka mengambil tempat duduk yang sama dan kembali ngobrol heboh. Shelia cukup memahami temannya ini. Kalo udah menyangkut soal prinsip hidupnya, dan terutama ‘Uang’, Mia itu bener-bener terlihat beda deh. Dia jadi terlihat lebih dewasa. Padahal usia Mia 3 tahun lebih muda darinya. Mungkin karena sudah tidak memiliki ibu, Mia harus bisa mengkesampingkan urusan remajanya dan konsentrasi pada masa depan hidupnya seorang diri. Sebenarnya Mia anaknya periang. Namun Mia juga terlihat berwibawa dan dewasa banget. Kesannya malah jadi ‘sok tua’. Tapi Shelia cukup menghormati temannya yang sudah dianggapnya sebagai adiknya ini. Orang kayak Mia itu pas banget kalo diajak buat curhat atau sekedar sharing. Beda dengan dirinya. Shelia orangnya lebih santai, bebas dan terkesan cuek. Wanita yang belum sempat menyelesaikan kuliahnya ini suka nyleneh dan selalu bisa membawa keceriaan di lingkungannya. Meski begitu, Shelia tetap bisa menunjukan ketegasannya sebangai wanita dewasa pada Mia maupun teman-temannya.
“oh ya, besok jangan sampe telat ya Mia. Kita harus siap-siap buat ngedekor tempat reservasi. Pak Bahari bakalan rewel banget kalo ada staf yang telat! Acaranya sih jam 7 malam. Tapi kita harus ngedekor dari sore.  Kemungkinan besok kita bakalan agak lembur sampe jam 12 an.” Mia mengangguk janji.
“emangnya acara apaan si?”
“pesta ultah katanya. Dia pelanggan tetap Resto sekaligus anak kenalannya pak Bahari. Makannya mau bikin party di sana. Dia perempuan muda. Kayaknya seusia deh sama elo. Anak orang kaya. Kalo datang ke Resto, dandannya tuh… Gila! Glamor abis!! Kaum jetsetter itu bener-bener beda ya… hidupnya tuh seakan udah diatur untuk have fun. Enggak perlu ngerasain hidup susah kayak kita.” Tutur Shelia semangat. Kalo udah ngegosipin orang, Shelia ini nih jagonya deh.
Mia memutar bola matanya dan tertawa sinis. “yang kaya itu orang tuanya. Bukan dia. Coba deh kalo cewek itu disuruh kerja keras dari ‘zero’ kayak ortunya dulu. Udah terbiasa dimanja sih, pasti susah. Yaa… palingan tinggal nerusin usaha orang tua”
“iiiiih! Ini anak, gaya bicaranya aja udah kayak nenek-nenek 80 tahun! Cepet tua deh lo!” semprot Shelia. Mia Cuma manyun bebek. Shelia suka sebel sama Mia. Soalnya mereka selalu enggak sependapat dan Mia suka sekali mematahkan ucapan Shelia. Semangat ngegosipnya jadi hilang ditiup angin. Setelah lama berdiam-diaman, Shelia akhirnya tiba di stasiun pemberhentiannya. “Bye! Duluan ya!” Mia membalas lambaian tangan Shelia. Kereta kembali melaju. Mia menyandarkan tubuhnya lebih rileks pada bangku penumpang. Dia memikirkan kata-kata Shelia.
‘apa gue ini memang bersikap terlalu berlebihan…?’ terjadi perdebatan dalam diri Mia. Kepahitan hidup membuat sikap Mia berubah. Dia harus bisa bersikap dewasa dan berpikiran jernih… harus…harus…
“hidupnya tuh seakan udah diatur untuk Have fun! Enggak perlu ngerasain hidup susah kayak kita” Mia menghela nafas letih. Baginya, jalan hidup seseorang itu sudah diatur sedemikan rupa oleh yang maha kuasa. Pasti ada nikmat dan kesusahan di tiap nasib orang. Dan potongan kecil hidupnya ini kelak akan menjadi sebuah kenangan dan kenikmatan yang tidak akan pernah dirasakan orang lain jika dia sudah berhasil nanti. Pelan namun pasti… Mia berjalan dalam roda kehidupannya. Yang ingin dilakukannya saat ini adalah membahagiakan Bapaknya seorang.
“gadis berhati mulialah yang akan menjadi pemenang… gadis yang akan mendapatkan kebahagiaan. Dan setiap gadis itu cantik… jadilah gadis yang cantik… terutama cantik di sini” ibu menunjuk dadaku.
WUZZZZZZ!!!! Mia tertengun. Ditatapnya kereta yang melaju berlawanan arah lewat jendela. Mia teringat kalimat yang selalu ibunya ucapkan padanya ketika masih kecil… Mia tercenung. ‘ya Allah… aku akan baik-baik saja… aku pasti baik-baik saja…’ doanya menguatkan batin. Debaran di dadanya mulai stabil kembali. Entah kenapa, Mia jadi sedikit emosional jika mengenang sang ibu… Dibiarkannya kereta terus melaju menembus malam membawa dirinya dengan begitu cepat ke pemberhentian selanjutnya.
***
“Bu, bacain buku ‘Cinderella’ dong…” Pinta Mia manja sambil menarik-narik lengan baju daster ibunya.
Ibu memandang Mia heran. Dia kembali duduk di samping tempat tidur putri kecilnya lalu membelai kepalanya lembut. “segitu sukanya sama cerita itu? Kamu enggak bosen ibu ngebacain dongeng itu terus-terusan?” Mia menggeleng cepat.
“Mia suka ceritanya” Jawab Mia senang.
“masih ada buku dongeng lainnya yang belum kamu baca kan? Snow White, princess Mermaid, Tumbelina, dan-”
“Mia maunya ‘Cinderella’!” rengek Mia memaksa sang Ibu. Melihat kemanjaan putrinya, dirinya jadi tidak tega. Diambilnya buku dongeng yang sudah usang dari rak buku putrinya. Ibu suka membelikan putrinya buku cerita. Meski bukan buku mahal dan bukan pula buka buku baru, alias dibelinya dari tukang buku bekas di pasar yang dijual murah, Mia sangat senang sekali membaca dan mendengar cerita-cerita menarik yang selalu dibawakannya sebagai pengantar tidur. Buku-buku dongeng tentang seorang ‘putri’. Tapi, ada satu buku cerita yang sangat disenangi Mia. Yaitu Cinderella. Buku dongeng itu menjadi semakin tua dan lusuh karena terlalu sering dibaca olehnya dan ibunya…
“kenapa Mia suka sama cerita Cinderella?” Tanya ibunya iseng sebelum memulai bercerita.
“soalnya, Cinderella itu gadis baik yang malang… dari seorang gadis yang disuruh menjadi pembantu sama ibu dan kakak-kakak tirinya, dia akhirnya bisa bertemu dan menikah dengan pangeran kerajaan! kan keren bu” Mia menjelaskan dengan mata berbinar-binar.
“dan lagi… aku berharap bisa jadi kayak Cinderella bu…” lanjutnya malu-malu. Ibunya terlihat pura-pura terkejut. Dalam hati dia tertawa dan begitu senang mendengar impian dari gadis kecil berusia 7 tahun. Sepertinya Mia sudah terlalu hanyut dalam cerita Cinderella. Gadis biasa yang menjelma menjadi putri bangsawan dan menikah dengan pangeran tampan. Setiap gadis, baik anak-anak maupun remaja dan dewasa sekalipun, menjadi seorang ‘putri’ itu adalah impian… siapa sih yang enggak ingin menjadi gadis yang dilimpahi kebahagiaan dan menikah dengan pangeran tampan?
“Cinderella itu, tidak hanya berwajah cantik… tapi dia juga memiliki kecantikan di sini…” ibu menunjuk dada Mia. Hati… “hati yang baik dan cantik lah yang terpenting…”
Mia menangguk. Paham dengan maksud sang ibu. “Mia mau jadi kayak Cinderella!! Jadi cantik… dan baik!” teriak Mia girang. “nanti akan ada pangeran ganteng yang jemput Mia. Mia akan menikah dengannya dan tinggal di istana!” Mia melocat-loncat di kasurnya. Ibunya jadi tidak bisa menahan senyum dan tawanya meledak melihat kepolosan buah hatinya itu.
“oke…oke… ayo, kita mulai ceritanya…”

***

“Assalamuallaikum…” Mia meletakan tas selempangnya ke sofa butut yang sudah reot. Matanya mencari-cari keberadaan Bapak di dalam rumah. Mana Ayah? “Bapak! Mia pulang”
“waalaikumsallam…” Bapak muncul dari kamar. Dia mengenakan kaus berwarna cokelat dan sarung. Perutnya yang buncit, membuat sarungnya berkali-kali melorot dan terus menerus diperbaiki. Mia menerka-nerka, mungkin Bapak baru selesai sholat. Mia segera menghampiri Bapak dan mencium punggung tangannya.
“udah makan?”
“udah, tadi di tempat kerja Mia” balas Mia. Mia menunjukan sebuah plastik bening pada Bapaknya. Didalamnya ada sebuah kotak dan aroma harum makanan menyeruak.
“martabak telor kesukaan Bapak. Mia baru gajian, jadi Mia mau beliin ini buat Bapak sebagai traktiran” katanya sambil nyengir. Bapaknya menerimanya dengan suka cita.
“Alhamdulliah… waaaah…makasih nak. Tau aja Bapak lagi pengen makan martabak telor” Mia berlari ke dapur. Mengambil piring dan mangkuk. Mia meletakan martabak telurnya pada piring dan sausnya di mangkuk. Di letakannya martabak telur itu di meja makan yang kayunya sudah lapuk dan mereka duduk bersama pada kursi plastik. Mia memandang Bapaknya yang begitu sangat menikmati martabak telur. “enak banget, Mia makan juga dong!” Mia tertawa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Bapak. Betapa senang hati Mia melihat senyum Bapaknya. Ah… Bapaknya sudah begitu tua… lelah dan kepahitan hidup begitu terlihat di raut wajahnya yang sedikit pucat. Apakah bapak masih sakit? Kapan bapak akan sembuh? Kenapa bapak selalu tersenyum seperti itu padanya? Tidakkah dia menderita dengan hidup dan penyakit senjanya? Rentetan pertanyaan begitu membludak di kepala Mia. Namun dia tidak menyuarakannya. Bapak sangat menyayanginya. Mia tahu itu… Bapak tidak ingin membuat Mia khawatir dengan kondisinya. Mia harus berusaha lebih keras lagi untuk hari esok. Dia ingin Bapak beristirahat dan menikmati hari tuanya dengan bahagia. Ah… andai saja masih ada ibu…

***

“Bapak… Ibu enggak kenapa-kenapa kan…?” Tanya Mia cemas. Mereka duduk bangku tunggu bersama-sama. Bapak memeluk Mia dari belakang. Tangannya gemetaran. Dari mulutnya terus meluncur kalimat-kalimat syahadat dan ayat Al-Qur’an yang terdengar seperti bisikan di telinga Mia. Matanya terpejam dan begitu tenang.
“bapak…” Mia menggoyang bahu Bapak. Bapak melirik putrinya, lalu tersenyum samar sekilas dan kembali berdoa sambil terpejam. Mia menatap kesekelilingnya khawatir. Lorong rumah sakit jadi terlihat mengerikan dimatanya. Banyak orang berlalu lalang. Bau obat menyeruak. Dan aura orang-orang sakit begitu kental terasa… Mia benci rumah sakit.
Beberapa jam lalu, Ibu sedang memasak sarapan untuk Bapak dan Mia. Dan ketika sedang sibuk bergulat dengan bahan-bahan dapur, ibu ambruk! Mia yang sedang bersama ibu pagi itu jadi panik dan menangis melihat ibu tiba-tiba pingsan. Bapak yang baru selesai berpakaian sehabis mandi untuk pergi bekerja begitu terkejut mendengar suara tangisan histeris Mia di dapur. Dan betapa shocknya Bapak. Mendapati istrinya terkulai lemah dengan darah segar keluar dari hidungnya.
“tadi… Mi,Mia terus-terusan minta ibu buat bikinin Mia sosis goreng… ter, terus… huhuhu… ibu marah-marah karena Mia katanya bersik dan menganggu ibu… huhuhu… terus… ibu… ibu jatuh…” sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat dengan meminta tolong tetangganya yang berprofesi sebagai supir angkot, Mia terus-terusan menangis menyalahkan diri. Dia mengira dirinyalah penyebab ibunya jadi tiba-tiba sakit. Di bangku penumpang, Bapak tidak terlalu mendengarkan ocehan Mia. Dia menjaga ibu agar tidak terjadi benturan dan menyesuaikan posisi yang nyaman untuk tubuh ibu sambil dibantu beberapa tetangga yang ikut membantunya.
Setibanya disana, ibu langsung ditangani beberapa perawat yang menanti kehadiran mereka. Ibu langsung diangkut ke ruang UGD dan disinilah mereka sekarang. Menunggu kepastian dokter tentang keadaan ibu.
Sekitar 30 menit kemudian, dokter akhirnya keluar. Bapak langsung berdiri menghampiri dokter dengan harap-harap cemas.
“bagaimana keadaan istri saya dok?”

***
 
‘Terajanaaaa…. Terajanaaaaaa…..’
“UHUUK!!” Mia terbatuk. Suara ring tone ponsel Bapaknya selalu membuat Mia terkaget-kaget. Norak! Bapak langsung melesat ke kamar. Meraih ponsel dan menjawab panggilan. Wajahnya berubah serius ketika melihat layar ponselnya.
“malam…? Ada.. perlu apa ya…? Tiba-tiba saya di hubungi seperti ini…” Mia mengamati gerak gerik Bapaknya yang sedang menerima telepon itu dari ruang makan. “OH!” Ekspresi Bapak terlihat kebingungan dan gelisah.
Bapak melirik Mia dan segera berpaling , suaranya terdengar seperti berbisik “mohon maaf… tolong beri saya waktu. Saya akan segera menelepon balik…”
Bapak berjalan mondar mandir. Jelas ada masalah… pikir Mia. “baik… saya mengerti. Saya berjanji! Tapi tolong, beri saya waktu… sa-” Bapak memandang ponselnya putus asa. Sambungan telepon sudah diputus. Bapak kembali ke tempat duduknya. Dipandanginya Anak sematawangnya itu dengan pandangan letih. Suasana berubah hening dan tegang. Mia mengambil segelas air putih untuknya dan Bapaknya. Mencairkan atmosfir berat yang tiba-tiba melanda di saat-saat kesenangan sedang berlangsung dengan sang Bapak.
“kenapa Pak?” Tanya Mia hati-hati. Bapak membuka mulutnya, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Matanya terpejam, lalu terbuka kembali dengan padangan yang berbeda. Wajahnya semakin pucat pasi…
“ada… ada yang mau Bapak bicarain sama kamu nak…”


bersambung ke part 2.

Label:

Posting Komentar