|
OWNER
For Your Information ![]() Contact Me
Social ![]() Chatting
lets chat! History
Blog Archive
Credit
The Credit © 29 JUNE 2014 - Wardah Hasanah |
Pretty or Betty (sebuah cerpen) Selasa, 24 Juni 2014 | 0 Comments
catatan kecilku: Cerpen ini saya buat saat memikirkan banyak remaja yang tidak pede dengan dirinya sendiri. terutama dalam hal fisik.Padahal ada potensi besar dalam diri mereka, dan mereka tidak sadar akan hal itu. coba deh mengenali diri kamu lebih dalam. Akan ada permata indah yang kamu temukan nantinya...
Pretty
membuka-buka majalah fashion remaja langganannya sambil tiduran di kasur kamar.
“cantik
banget…” serunya ketika melihat model berwajah setengah indo dengan long dress
cokelat elegan menarik perhatiannya. Gadis berperawakan tinggi semampai itu
tidak menunjukan senyumnya. Datar. Tapi cool!! Rambut hitam panjang sepinggang
dibiarkan jatuh di antara lekuk tubuhnya yang indah… Mata dinginnya juga
menatap tajam seolah berkata ‘lihat! Betapa cantik dan sexynya aku!’. Pretty
mengela nafas panjang. Ditutupnya majalah itu dan segera melangkah turun dari
ranjang. Kakinya melangkah menuju cermin ukuran jumbo yang melekat di lemari
pakaiannya.
“well…”
ucapnya miris memperhatikan sosok dirinya di cermin. Pretty mengusap wajahnya
yang chubby. Kusam… berminyak… dan yang lebih parah adalah jerawatan di
sana-sini. Pretty makin geram ketika menyadari ada jerawat baru di keningnya.
Perhatiannya berlanjut ke tubuh mungilnya. Kecil dan… kurus. Pretty berputar
putar memperhatikan lekuk tubuhnya. Nothing… tidak ada yang menarik di setiap
sisi bagian tubuhnya sama sekali. Rambutnya hitam panjang sebahu. Cukup terawat…
tapi, Itupun biasa saja. Pretty cenderung lebih sering menguncir kuda
rambutnya. Sosok dirinya lebih mirip dengan ‘korek api’. Kepalanya besar tapi
badannya kurus abis…
Pretty
kembali mengela nafas lemah memandang sosok dirinya di cermin. Menyedihkan!!
Pretty membanting tubuhnya ke kasur. Berguling kesal kesana kemari meratapi
nasibnya. Dilemparnya majalah fashion itu jauh-jauh kesudut kamar. Satu hal
yang dipelajarinya… tidak sehat jika terlalu lama menatap majalah fashion
lama-lama. Dijamin bikin stress dan merasa ingin gantung diri… seperti dirinya
saat ini. Rasanya ingin segera ditelan bumi…
***
“kenapa
melamun?” Tio mengisi bangku kosong di depan Pretty. Cowok yang sudah lama
menjadi sohib Pretty ini selalu sigap jika melihat sosok sahabatnya yang kini
sedang nelangsa didepannya. Pretty yang sendari tadi diam dengan tatapan kosong
mengaduk-aduk jus melon pesanannya di kantin sekolah hanya tersenyum kecut menanggapi.
“menurut
lo… gue ini gimana?” Pretty bersuara.
“gimana
apanya?” Tio kebingungan.
“iya…
apa pendapat lo tentang gue” jelas Pretty.
“lo
asik.. lucu…enggak jelas. Dan kadang suka ngeselin…” tuturnya sambil nyengir
kuda.
“bukaaann!!
Maksud gue… sosok gue… penampilan gue…” Pretty gelagapan. Bingung juga harus
berkata apa.
“lo
kenapa sih…? Lagi ada masalah?” akhirnya Tio mencium gelagat aneh Pretty.
Pretty yang orangnya tidak suka menyimpan kegundahan seorang diri akhirnya
menyerah. Diceritakannya nasib sial yang menimpa dirinya terlahir bagai itik
buruk rupa. Bukannya bersimpati, Tio malah tertawa ngakak!
“gue
kira lo kenapa! Huahahaha!!” Tio tidak bisa berhenti tertawa.
“heh,
gue enggak butuh ketawa lo!” cerca Pretty kesal. Diseruputnya jus melonnya
hingga habis.
“lagian…
lo galau Cuma masalah sepele gitu?”
“sepele??
Ini krisis!! Krisis gue sebagai wanita!! Nama Pretty itu sama sekali enggak
sesuai buat gue yang… begini…” suara Pretty melemah. Wajahnya juga menunduk
pasrah.
“yeah…
mungkin lebih cocok kalo nama lo itu ‘Betty’ ya...” ucapan Tio kembali membuat
Pretty darah tinggi. Wajahnya memerah menahan kesal.
“aaah…
susah kalo bicara soal beginian sama cowok…” Pretty segera bangkit dari
bangkunya dan pergi meninggalkan Tio. Namun langkahnya langsung terhenti saat
melihat segerombolan cowok yang berjalan masuk kedalam kantin sekolah. Ada
Febri diantara mereka! Langsung saja Pretty memalingkan wajahnya yang sudah
kayak kepiting rebus dan berusaha berjalan santai melewati gerombolan cowok
itu. tapi…
“hei!
Miss Betty tunggu!!” Tio berteriak sambil berlari mengejar posisi Pretty. Dan
jelas saja wajah Pretty langsung berubah pucat pasi. Membeku di tempat. Semua
mata memandang kearahnya. Terutama Febri yang langsung menoleh kearah Pretty
berada. Tio bego!!
***
“gue inget banget waktu Felis mau ngejodohin
gue sama sepupunya yang cakep. Gue seneng banget waktu sepupunya itu mau
ketemuan sama gue. Dan pas ketemuan, cowok itu langsung pucat pasi dan
kabur entah kemana… gue rasa dia syok
lantaran wajah gue yang enggak semenarik namanya. Iya kan?” Pretty curhat
sambil nangis bombai. Renita, teman sebangku Pretty di kelaslah yang jadi
incaran curhatan Pretty selanjutnya.
“kalo keadaan
fisik gue kayak begini, gimana gue bisa ngegebet Febri?” Pretty menutupi
wajahnya nelangsa. Yeah, Febri… cowok beken yang dikagumi Pretty sejak duduk di
kelas X. cowok itu charming dan supelnya bukan main… ramah dan murah senyum
pula. Makannya Pretty langsung sewot pas Tio dengan santainya meneriaki Pretty
dengan sebutan ‘Betty’ di kantin tadi. Namun Pretty cukup sadar diri. Gadis dengan
banyak kekurangan macam dirinya, apa mampu dapetin cowok keren seperti Febri?
“apa gue harus
operasi plastik kali ya?” celetuk Pretty tiba-tiba.
“nah! Itu dia!!”
seru Renita hingga terlompat dari bangkunya.
“hah??! Gue
beneran harus oplas??!” Pretty terngaga.
Ternyata
operasi plastik yang dimaksud Renita adalah, ‘merawat diri’.
“enggak
ada cewek yang jelek didunia ini… yang ada adalah cewek yang males ngerawat
diri…” Renita berkotbah dengan Pretty yang terpukau dibuatnya.
“nah,
lo harus coba semua ini!” Renita menyerahkan secarik kertas pada Pretty. Dan
isinya langsung membuat Pretty ingin
pingsan! 1. Rajin cuci muka sehabis melakukan kegiatan, 2. Kurangi makan
cemilan dan makan makanan bergizi, 3.
Konsumsi buah-buahan dan sayuran yang banyak, 4. Olahraga minimal 2 kali
dalam seminggu, dan masih banyak lainnya. Kelihatannya sih simple, tapi ini
jadi hal yang berat dijalankan Pretty.
“ribet
banget… enggak ada yang lebih instan apa?” Pretty berkomentar. Dan disambar
dengan Renita yang melotot tajam.
“enggak
ada cantik yang instan. Semua butuh proses. Kalo mau instan, sono gih operasi
plastik!” semprot Renita bête. Pretty mengusap wajahnya. Ngeri membayangkan
wajahnya dioperasi plastic…
2 minggu berlalu dan Pretty
mencoba tetap positif menjalankan treantment-treatment ala Renita. Memang belum
ada perubahan yang signifikan dengan fisiknya. Yang terasa adalah, Pretty makin
terlihat fresh dan enegik! Dalam perjalanan pulang sekolah, Pretty mangkir ke
tukang es buah langganannya dekat sekolah.
“dibungkus aja bang. Oya, banyakin
alpukat sama stoberinya ya bang!” pinta Pretty semangat. Dia ingat salah satu
saran yang sangat diwanti-wanti Renita. ‘banyak-banyaklah makan buah-buahan…
biar kulit lo makin cakep dan seger’. Bukan hanya lantaran saran Renita sih,
Pretty emang doyan banget makan es buah. Ilernya saja sudah banjir entah
kemana.
“hush! Sana pergi!!” tukang es
buah mengusir seorang pengemis kecil yang dari tadi berdiri di depan
gerobaknya. Anak lelaki itu berpakaian lusuh dan menggenggam gitar kecil di tangan.
Wajahnya terlihat memelas. Melihatnya,
Pretty jadi iba…
“eum… pesen 1 lagi bang!” seru
Pretty pada si abang es buah.
“ini buat kamu dik” Pretty
menyerahkan sebungkus es buah miliknya pada si pengemis kecil.
“eh? Buat aku mbak?” pengemis
kecil itu takjub tidak percaya. Pretty mengangguk yakin.
“makasih ya mbak!!” anak itu
tersenyum lebar dan segera pergi berlari ke seberang jalan. Pretty terkejut
saat melihat anak lelaki itu memeluk seorang ibu tua yang duduk letih di bawah
lampu merah jalan raya dan menyerahkan bungkusan es buah padanya. Mungkin itu
adalah ibu si anak itu… hati Pretty terenyuh.
“lagi ngapain lo?” Pretty
dikagetkan dengan suara dibelakangnya. Tio! Cowok itu senyum lebar memamerkan
deretan gigi putihnya.
“oh, enggak… gue lagi liat
mereka” Pretty menunjuk pengemis kecil dan ibunya di seberang jalan. Tio
mengangguk ngerti.
“kasian ya mereka…
berpanas-panasan di pinggir jalan buat nyari duit dengan mengemis. Anak itu
juga harus ikut mengemis. Seharusnya anak seusia itu taunya Cuma main, sekolah
dan belajar. Tapi karena kondisi hidup mereka begitu, dia juga harus ikut bantu
orang tuanya mengemis…” tutur Pretty parau. Pretty tersenyum miris saat melihat
si pengemis kecil dan ibunya memakan es buah dengan nikmat.
“syukur deh mereka seneng…”
gumamnya.
“ternyata lo perhatian juga ya?”
Tio berpendapat. Pretty menoleh cepat menatap Tio yang Cuma nyengir lebar. Dia
baru sadar, bukannya dia masih gondok dengan tingkah Tio? Cepat saja Pretty
segera pergi ninggalin Tio yang bengong.
“hei, menurut gue, cewek itu
dilihat bukan dari tampangnya. Tapi dari hatinya” Tio mengejar posisi Pretty
dan berjalan beriringan. Kini Pretty yang bengong.
“meski cewek itu enggak secantik
artis-artis atau model majalah, dia harus punya kelebihan di sini” Tio menunjuk
dadanya. “dan lo punya kelebihan itu” tandas Tio lagi.
“masa sih?” Pretty menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Merasa tersanjung.
“dan menurut gue, lo punya hati
yang baik. Dan itu lebih penting. Juga jauh lebih menarik dimata orang lain”
kalimat terakhir Tio membuat Pretty menganga. Lebaaaarr banget!
“orang lain itu siapa?” Tanya
Pretty lugu. Kini Tio yang menggaruk kepalanya lalu angkat bahu. “siapaaa??”
Tanya Pretty memaksa. Wajah Tio berubah merah mendadak.
“aaah!! Pokoknya ada lah!!
Bye-bye miss Betty!!” Tio berlari ninggalin Pretty dibelakangnya.
“bukan Betty!! nama gue
Pretty!!!”
Label: cerpen |
Posting Komentar